Oleh: Indonesian Children | Maret 26, 2010

Sumber-Sumber Pendapatan Negara dalam Tinjauan Sistem Ekonomi Islam

Sumber-Sumber Pendapatan Negara dalam Tinjauan Sistem Ekonomi Islam

⁠⁠

Penyebab Defisit Anggaran

Dalam perjalanan sejarah ekonomi Indonesia, hancurnya struktur ekonomi Indonesia dimulai dengan masuknya penjajah ke negeri ini. Ketika penjajahan fisik berlalu, para penjajah kemudian memaksakan penerapan sistem ekonomi kapitalis dalam rangka tetap mempertahankan penjajahannya terhadap negara Indonesia. Mekanisme dan prinsip ekonomi kapitalis, khususnya yang terkait dengan APBN adalah:

1. Konsep Anggaran Berimbang atau Defisit.

Dalam konsep ini, dana di dalam negeri dipandang tidak cukup untuk membangun perekonomian sehingga diperlukan sumber dari luar negeri. Lalu, dengan dalih membantu dan membangun perekonomian negara-negara bekas jajahannya, negara-negara kapitalis memberikan pinjaman. Pinjaman ini pada umumnya berbentuk alat atau bantuan tenaga ahli. Akibatnya, utang luar negeri ini hanya menguntungkan negara-negara pemberi modal. Hal ini disebabkan oleh dua hal: (a) adanya net transfer (yang masuk lebih kecil dibandingkan dengan yang keluar) sumber-sumber keuangan negara-negara penerima utang pada negara-negara kreditor; (b) munculnya ketergantungan negara-negara peminjam kepada negara kreditor, baik secara finansial maupun ekonomis. Kondisi ini telah menyebabkan negara Indonesia masuk dalam perangkap utang (debt trap) yang sangat sulit (mustahil) untuk dibayar. Untuk RAPBN Indonesia tahun 2006, misalnya, Indonesia harus membayar utang luar negeri sebesar Rp 60.302 triliun.

2. Adanya Liberalisasi Ekonomi.

Turunannya adalah perdagangan bebas dan liberalisasi maupun tekanan untuk melakukan privatisasi perusahaan-perusahaan negara. Dampak dari kebijakan ini adalah Pemerintah kehilangan sumber pendapatan negara yang berasal dari harta milik umum dan milik negara yang harus diprivatisasikan. Negara hanya mendapatkan sebagian kecil melalui pajak atau pembagian laba dari penyertaan modal pada perusahan tersebut. Contoh: penguasaan hutan dan barang tambang oleh perusahaan swasta. Hutan di Indonesia yang luasnya 143.7 juta hektar dikuasai sebagian besarnya oleh 12 orang konglomerat. Akibatnya, hasil hutan sebesar US$ 2.5 miliar pertahun yang masuk ke negara hanya 17%, sisanya 83% masuk ke swasta (1993).

Yang tidak kalah pentingnya, penerapan sistem ekonomi kapitalis yang mengakibatkan defisit APBN adalah adanya kebocoran dalam pengelolaan keuangan negara yang disebabkan oleh praktik kolusi dan korupsi oleh para pejabat negara. Bahkan dalam masalah ini Indonesia menunjukan ‘prestasi’ yang luar biasa, yaitu menduduki posisi ke-3 besar dalam kelompok negara yang terkorup.

Politik Ekonomi Islam dalam Masalah APBN

Politik Ekonomi Islam seperti yang dijelaskan oleh Syaikh Dr. Abdurahman al-Maliki (2001) dalam bukunya, As-Siyâsah al-Iqtishâdiyah al-Mutslâ (Politik Ekonomi Ideal) adalah
jaminan pemenuhan atas pemuasan semua kebutuhan primer (sandang, pangan, dan papan) setiap orang serta pemenuhan kebutuhan sekunder dan tersiernya sesuai dengan kadar kemampuannya sebagai individu yang hidup dalam masyarakt tertentu yang memiliki gaya hidup yang khas. Oleh karena itu, politik ekonomi Islam dalam masalah anggaran negara sebenarnya merupakan kebijakan negara, baik menyangkut sumber-sumber pendapatan negara maupun alokasi penggunaan dana dalam rangka mewujudkan terpenuhinya kebutuhan pokok individu orang-perorang dan kepentingan individu yang bersifat sekunder maupun tersiernya.

Syaikh Abdul Qadim Zallum (1983) dalam bukunya, Al-Amwâl fî Dawlah al-Khilâfah (Sistem Keuangan Negara Khilafah), secara panjang lebar telah menjelaskan sumber-sumber pemasukan negara. Adapun politik pembiayaan negara telah dibahas secara detail oleh Syaikh Dr. Abdurrahman al-Maliki (2001) dalam bukunya tersebut di atas.

Dalam buku tersebut dijelaskan sumber-sumber pemasukan Negara Khilafah yang dikumpulkan oleh lembaga yang disebut Baitul Mal, yaitu lembaga keuangan Negara Islam, yang mempunyai tugas khusus menangani segala harta umat, baik berupa pendapatan maupun pengeluaran negara.

Secara garis besar, pendapatan negara yang masuk ke dalam Baitul Mal di kelompokkan menjadi 5 sumber:

Pertama: Dari Pengelolaan Negara atas Kepemilikan Umum.

Benda-benda yang termasuk dalam kepemilikan umum dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok:
1. Fasilitas umum. Fasilitas umum adalah apa saja yang dianggap sebagai kepentingan manusia secara umum; jika tidak ada dalam suatu negeri atau suatu komunitas akan menyebabkan kesulitan dan dapat menimbulkan persengketa-an. Contoh: air, padang rumput, api (energi), dll.
2. Barang tambang dalam jumlah sangat besar. Barang tambang dalam jumlah sangat besar termasuk milik umum dan haram dimiliki secara pribadi. Contoh: minyak bumi, emas, perak, besi, tembaga, dll.
3. Benda-benda yang sifat pembentukannya menghalangi untuk dimiliki hanya oleh individu. Ini meliputi jalan, sungai, laut, danau, tanah-tanah umum, teluk, selat, dan sebagainya.
Potensi Indonesia untuk pendapatan negara yang berasal dari kepemilikan umum bisa dilihat dari sebagian sumber-sumber di bawah ini:

Potensi tambang.

Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki potensi hasil tambang yang cukup besar. Sebagian potensi hasil tambang Indonesia dapat dilihat dalam tabel di bawah ini:
Tabel 1. Potensi Hasil Tambang Indonesia
Jenis Tambang Potensi Rata-rata Produksi Pertahun
MinyakGasBatu BaraEmasTimah 9.746.40 juta barel176.60 triliun kubik145.8 miliar ton1.300 ton- 1.252.000 barel3.04 triliun kubik100.625.000126,6 Ton34.247 metrik ton

Tabel 2. Potensi Laut Indonesia.
Jenis Hasil Pertahun
Ikan Laut (Potensi Lestari)Perairan laut dangkal (Budidaya)Lahan Pesisir 6.400.000 ton47.000.000 ton5.000.000 ton

Dari data di atas, untuk nilai emas saja dengan asumsi harga sekarang Rp 140.000 pergram, dihasilkan pendapatan sebesar Rp 17.640 triliun.

Dari potensi laut tersebut, menurut S. Damanhuri diperkirakan potensi pendapat dari sektor kelautan adalah sebesar US$ 82 miliar dengan asumsi 1 $ sebesar Rp 10.000. Artinya, dari potensi laut dapat dihasilkan pendapatan sebesar Rp 820 triliun (1.5 kali lipat lebih dari RAPBN 2006).

Potensi Hutan dan Perkebunan.

Potensi hutan Indonesia juga cukup tinggi. Hasil hutan dalam bentuk kayu saat ini diperkirakan sebesar US$ 2.5 miliar. Hasil-hasil ekspor tumbuhan dan satwa liar tahun 1999 sebesar US$ 1.5 miliar. Hasil hutan lainnya adalah rotan; Indonesia saat ini memasok sekitar 80 sampai 90% kebutuhan dunia.

Kedua: Dari Harta Milik Negara dan BUMN.

Jenis pendapatan kedua adalah pemanfaatan harta milik negara dan BUMN. Harta milik negara adalah harta yang bukan milik individu tetapi juga bukan milik umum. Contoh: gedung-gedung pemerintah, kendaraan-kendaraan pemerintah, serta aktiva tetap lainnya. Adapun BUMN bisa merupakan harta milik umum kalau produk/bahan bakunya merupakan milik umum seperti hasil tambang, hasil hutan, emas, dan lain-lain; bisa juga badan usaha yang produknya bukan merupakan milik umum seperti Telkom dan Indosat.

Sebagai gambaran, Pemerintah saat ini memiliki BUMN sekitar 160 buah. Jumlah BUMN yang meraih laba pada tahun 2003 mencapai 103 perusahaan dengan total laba bersih Rp 25.6 triliun. Akan tetapi, 69 persen dari total laba bersih tersebut disumbangkan oleh 10 BUMN saja. Kebanyakan BUMN sudah go public sehingga sebagian besar laba tersebut tidak masuk ke Pemerintah, tetapi ke pemegang saham swasta. Di sisi lain, terdapat 47 BUMN yang merugi pada tahun 2003 dengan total kerugian Rp 6.08 triliun. Sebanyak 84.4 persen dari total kerugian BUMN (Rp 5.13 triliun) hanya diakibatkan oleh 10 BUMN.

Kondisi BUMN yang meraup laba maupun yang mengalami kerugian sebenarnya belum memberikan konstribusi yang optimal kepada negara dan rakyat. Ini disebabkan: Pertama, masih banyak terjadinya inefesiensi dalam pengelolaan perusahaan, baik dari proses produksi maupun sistem penggajian. Misal: banyak karyawan asing yang tersebar di berbagai BUMN; mereka dibayar antara puluhan hingga ratusan kali lipat dibandingkan dengan tenaga lokal meskipun dengan pekerjaan yang sama. Padahal gaji karyawan BUMN untuk karyawan lokal juga sangat tinggi dibandingkan dengan gaji PNS. Karyawan baru BUMN menerima gaji sekitar 3.000.000, sedangkan gaji direksi ada yang sampai ratusan juta rupiah. Kedua, BUMN sering dijadikan sapi perahaan, baik untuk kepentingan pribadi, kelompok tertentu, maupun partai politik sehingga korupsi di BUMN sangat tinggi.

Ketiga: Dari Ghanîmah, Kharaj, Fai, Jizyah, dan Tebusan Tawanan Perang.

Kelima jenis pendapatan ini muncul dalam konteks Daulah Khilafah Islamiyah sebagai dampak dari politik luar negeri (jihad) yang dilakukan oleh kaum Muslim. Ketika Daulah Khilafah Islamiyah tegak, tidak sedikit jumlah pemasukan negara yang berasal dari pos ini.

Keempat: Pendapatan dari Zakat, Infak, Wakaf, Sedekah, dan Hadiah.

Kelompok yang keempat ini adalah mekanisme distribusi harta atau kekayaan yang sifatnya non-ekonomi. Potensi zakat di Indonesia saat ini dengan asumsi yang minimalis diperkirakan sekitar Rp 103.5 triliun.

Kelima: Dari Pendapatan Insidentil (Temporal)

Yang masuk dalam kelompok ini adalah pajak, harta ilegal para penguasa dan pejabat, serta harta denda atas pelanggaran yang dilakukan oleh warga negara terhadap aturan negara.

Khatimah

Berdasarkan uraian di atas, Negara Islam memiliki mekanisme tersendiri dalam membiayai kegiatannya, termasuk kegiatan pembangunan. Cara-cara tersebut sangat berbeda dengan cara-cara negara kapitalis. Dalam negara kapitalis, sumber utama pemasukan negara dibebankan kepada rakyat dengan jalan menarik pajak. Jika ini tidak memadai, negara dapat mencari dana dari luar melalui utang luar negeri. Sebaliknya, Negara Islam justru terlebih dulu mengandalkan pengelolaan sumberdaya alam yang tidak membebani masyarakat. Pajak ditarik bersifat temporer dan semata-mata untuk menutupi kekurangan saja dan dibebankan atas kaum Muslim saja. Mengutang ke luar negeri tampaknya tidak akan dilakukan oleh Negara Islam karena banyaknya bahaya yang akan didapat dari utang luar negeri.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 28 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: