Oleh: Indonesian Children | April 2, 2010

Jangan Tinggalkan Shalat Jumat

Jangan Tinggalkan Shalat Jumat

Shalat Jumat adalah aktivitas ibadah shalat pemeluk agama Islam yang dilakukan setiap hari Jumat secara berjama’ah pada waktu dzhuhur.

Hukum Shalat Jumat Shalat Jumat merupakan kewajiban setiap muslim laki-laki.

Hal ini tercantum dalam Al Qur’an dan Hadits berikut ini:

  • Al Qur’an Al Jumu’ah ayat 9 yang artinya:”Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu diseru untuk melaksanakan shalat pada hari Jumat, maka bersegeralah mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli, dan itu lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui.” (QS 62: 9)
  • “Hendaklah orang-orang itu berhenti dari meninggalkan shalat Jum’at atau kalau tidak, Allah akan menutup hati mereka kemudian mereka akan menjadi orang yang lalai.” (HR. Muslim)
  • “Sungguh aku berniat menyuruh seseorang (menjadi imam) shalat bersama-sama yang lain, kemudian aku akan membakar rumah orang-orang yang meninggalkan shalat Jum’at.” (HR. Muslim)
  • “Shalat Jum’at itu wajib bagi tiap-tiap muslim, dilaksanakan secara berjama’ah terkecuali empat golongan, yaitu hamba sahaya, perempuan, anak kecil dan orang yang sakit.” (HR. Abu Daud dan Al-Hakim, hadits shahih)

Tata Cara Shalat Jum’at

Adapun tata cara pelaksanaan shalat Jum’at, yaitu :

  • Khatib naik ke atas mimbar setelah tergelincirnya matahari (waktu dzuhur), kemudian memberi salam dan duduk.
  • Muadzin mengumandangkan adzan sebagaimana halnya adzan dzuhur.
  • Khutbah pertama: Khatib berdiri untuk melaksanakan khutbah yang dimulai dengan hamdalah dan pujian kepada Allah SWT serta membaca shalawat kepada Rasulullah SAW. Kemudian memberikan nasehat kepada para jama’ah, mengingatkan mereka dengan suara yang lantang, menyampaikan perintah dan larangan Allah SWT dan RasulNya, mendorong mereka untuk berbuat kebajikan serta menakut-nakuti mereka dari berbuat keburukan, dan mengingatkan mereka dengan janji-janji kebaikan serta ancaman-ancaman Allah Subhannahu wa Ta’ala. Kemudian duduk sebentar
  • Khutbah kedua : Khatib memulai khutbahnya yang kedua dengan hamdalah dan pujian kepadaNya. Kemudian melanjutkan khutbahnya dengan pelaksanaan yang sama dengan khutbah pertama sampai selesai
  • Khatib kemudian turun dari mimbar. Selanjutnya muadzin melaksanakan iqamat untuk melaksanakan shalat. Kemudian memimpin shalat berjama’ah dua rakaat dengan mengeraskan bacaan

Hal-hal yang dianjurkan

Pada shalat Jumat setiap muslim dianjurkan untuk memperhatikan hal-hal berikut:

  • Mandi, berpakaian rapi, memakai wewangian dan bersiwak (menggosok gigi).
  • Meninggalkan transaksi jual beli ketika adzan sudah mulai berkumandang.
  • Menyegerakan pergi ke masjid.
  • Melakukan shalat-shalat sunnah di masjid sebelum shalat Jum’at selama Imam belum datang.
  • Tidak melangkahi pundak-pundak orang yang sedang duduk dan memisahkan/menggeser mereka.
  • Berhenti dari segala pembicaraan dan perbuatan sia-sia apabila imam telah datang.
  • Hendaklah memperbanyak membaca shalawat serta salam kepada Rasulullah SAW pada malam Jum’at dan siang harinya
  • Memanfaatkannya untuk bersungguh-sungguh dalam berdoa karena hari Jumat adalah waktu yang mustajab untuk dikabulkannya doa.

Sumber hadits terkait

Berikut adalah sumber dalam Hadits berkenaan dengan shalat Jumat dan hari Jumat :

  • “Mandi, mencabut bulu-bulu tak perlu, memakai siwak, mengusapkan parfum sebisanya pada hari Jumat dianjurkan pada setiap laki-laki yang telah baligh.” (Muttafaq ‘alaih)
  • “Barangsiapa yang mandi pada hari Jum’at seperti mandi jinabat, kemudian dia pergi ke masjid pada saat pertama, maka seakan-akan dia berkurban dengan seekor unta dan siapa yang berangkat pada saat kedua, maka seakan-akan ia berkurban dengan seekor sapi, dan siapa yang pergi pada saat ketiga, maka seakan-akan dia berkurban dengan seekor domba yang mempunyai tanduk, dan siapa yang berangkat pada saat keempat, maka seakan-akan dia berkurban dengan seekor ayam, dan siapa yang berangkat pada saat kelima, maka seolah-olah dia berkurban dengan sebutir telur, dan apabila imam telah datang, maka malaikat ikut hadir mendengarkan khutbah.” (Muttafaq ‘alaih)
  • “Tidaklah seseorang mandi pada hari Jum’at dan bersuci sebisa mungkin, kemudian dia memakai wangi-wangian atau memakai minyak wangi, lalu pergi ke masjid dan (di sana) tidak memisahkan antara dua orang (yang duduk berjajar), kemudian dia shalat yang disunnahkan baginya, dan dia diam apabila imam telah berkhutbah, terkecuali akan diampuni dosa-dosanya antara Jum’at (itu) dan Jum’at berikutnya selama dia tidak berbuat dosa besar.” (HR. Al-Bukhari)
  • “Perbanyaklah membaca shalawat kepadaku pada hari Jum’at, sesungguhnya tidak seorang pun yang membaca shalawat kepadaku pada hari Jum’at kecuali diperlihatkan kepadaku shalawatnya itu.” (HR. Al-Hakim dan Al-Baihaqi)
  • “Barangsiapa membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at, maka dia akan mendapat cahaya yang terang di antara kedua Jum’at itu.” (HR. Al-Hakim dan Al-Baihaqi, hadits shahih)
  • “Sesungguhnya pada hari Jum’at ada saat yang apabila seorang hamba muslim mendapatinya sedang dia dalam keadaan shalat dan memohon kebaikan kepada Allah niscaya Allah akan mengabulkannya.” (HR. Muslim)

Meninggalkan Shalat Jumat

Yang menyatakan “kafir” bila meninggalkan tiga kali shalat Jum’at berturut-turut itu bukan Rasulullah saw., melainkan salah seorang sahabat dekat beliau, yaitu Ibnu ‘Abbas r.a.: “Barangsiapa meninggalkan tiga kali shalat Jum’at berturut-turut, sungguh dia telah mencampakkan Islam ke belakang punggungnya (kafir).” (HR Abu Ya’la, dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahiih at-Targhiib no. 732)

Ibnu Abbas itu adalah seorang sahabat yang terkenal “lunak” dalam berislam. Tidak ada bukti-bukti empiris yang menunjukkan bahwa dia memperlakukan orang yang meninggalkan tiga kali shalat Jum’at berturut-turut sebagai orang yang telah murtad. Penggunaan kiasan “telah mencampakkan Islam ke belakang punggungnya” (bukan kata-kata qath’i seperti “telah menjadi orang kafir”) pun menunjukkan bahwa “kafir” yang dimaksud itu bukan dalam dataran hukum, melainkan pendidikan. Itu untuk menekankan kerasnya larangan meninggalkan shalat Jumat.

Secara bahasa, “kafir” berasal dari kata “kufur” yang artinya menutupi kebenaran, melanggar kebenaran yang telah diketahui dan tidak berterima kasih. Kata jamak dari “kafir” adalah “kaafiruun” atau “kuffaar”. Kata kafir dan derivasinya (kata turunannya) disebutkan sebanyak 525 kali dalam Al Qur’an. Semuanya mengacu pada perbuatan mengingkari Allah swt., seperti mengingkari nikmat-nikmat Allah (Q.S. An-Nahl 16: 44, Ar-Rum 30: 34), lari dari tanggung jawab (Q.S. Ibrahim 14:22), membangkang hukum-hukum Allah (Q.S. Al Maidah 5: 44), meninggalkan amal shaleh yang diperintahkan Allah swt. (Q.S. Ar-Rum 30: 44), dll. Arti “kafir” yang paling dominan disebutkan dalam Al Qur’an adalah pengingkaran terhadap Allah dan Rasul-Nya, khususnya Muhammad saw. dengan ajaran-ajaran yang dibawanya. Istilah kafir dalam pengertian yang terakhir ini pertama kali digunakan dalam Al Qur’an untuk menyebut para orang kafir Mekah (Q.S. Al-Mudatstsir 74: 10) Jadi, orang kafir adalah mereka yang menolak, menentang, mendustakan, mengingkari, dan bahkan anti kebenaran. Seseorang disebut kafir apabila melihat sinar kebenaran, ia akan memejamkan matanya. Apabila mendengar ajakan kebenaran, ia menutupi telinganya. Ia tidak mau mempertimbangkan dalil apa pun yang disampaikan padanya dan tidak bersedia tunduk pada sebuah argumen meski telah mengusik nuraninya.

Mengenai orang yang meninggalkan tiga kali shalat Jum’at berturut-turut tanpa alasan yang sah, Rasulullah saw. tidak menyebutnya “kafir”. Sungguhpun demikian, beliau pun menggunakan istilah yang “keras”, yaitu “munafik“.

Dari Usamah bin Zaid r.a. dari Nabi saw., beliau bersabda, “Barangsiapa yang meninggalkan tiga kali shalat Jum’at tanpa udzur (alasan yang sah), niscaya dia tercatat dalam golongan orang-orang munafik.” (Hadits shahih, termuat dalam Shahihul Jami’us Shaghir no: 6144 dan Thabrani dalam al-Kabir I: 170 no: 422).

Selain “munafik”, beliau pun menggunakan istilah lain yang juga “keras”, yaitu “Allah menutupi hatinya” dan “lalai“. Dari Ibnu Umar dan Abu Hurairah r.a. bahwa keduanya pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda sedang beliau bersandar pada tongkat di atas mimbarnya, “Hendaklah orang-orang itu benar-benar berhenti dari meninggalkan shalat Jum’at, atau Allah benar-benar menutup rapat hati mereka, kemudian mereka benar-benar akan menjadi orang-orang yang lalai.” (Hadits shahih dalam Shahih Shahihul Jami’us Shaghir hal 142 not 5 no: 548, Muslim II: 591 no: 865, Nasa’i III: 88)

Shalat Jumat di Negeri Kafir

hukum orang yang tidak bisa melaksanakan shalat jumat selama satu tahun karena tinggal di negara non muslim, maka saya perlu menjelaskan terlebih dahulu tentang hukum mukim di negeri non muslim.
Saya katakan, bepergian ke negara kafir tidak di perbolehkan kecuali telah memenuhi tiga syarat :
Pertama    : Hendaknya seorang memiliki cukup ilmu yang bisa memelihara dirinya dari syubhat.
Kedua    : Hendaknya memiliki  agama yang kuat untuk menjaga (diri) agar  tidak terjatuh dalam syahwat.
Ketiga    : Hendaknya ia benar-benar berkepentingan untuk berpergian

Bagi yang belum bisa menyempurnakan syarat-syarat diatas tidak diperbolehkan pergi ke negeri kafir, karena hal itu akan menjatuhkan dirinya ke dalam fitnah yang besar dan menyia-nyiakan harta saja. Sebab orang yang mengadakan bepergian biasanya membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Jika ada suatu keperluan seperti berobat, mempelajari ilmu yang tidak di temui di negeri sendiri, maka hal itu di perbolehkan dengan catatan memenuhi syarat yang saya sebutkan di atas. Adapun masalah rekreasi ke negeri kafir, bukanlah suatu kebutuhan, karena seseorang bisa pergi ke negeri Islam yang menjaga syari’at islam. Negeri kita ini, Alhamdulillah ada beberapa tempat yang sangat cocok dan bagus untuk di buat rekreasi  ketika masa liburan.

Adapun masalah menetap atau tinggal di negeri kafir sangatlah membahayakan agama, akhlaq dan moral. Kita telah banyak menyaksikan banyak orang yang tinggal di negara kafir terpengaruh dan menjadi rusak, mereka kembali dalam keaadaan tidak seperti dulu sebelum berangkat ke negeri kafir. Ada yang kembali menjadi orang fasik atau murtad, bahkan mungkin mengingkari seluruh agama, sehingga banyak dari mereka pulang ke negerinya menjadi penentang dan pengejek agama Islam dan melecehkan para pemeluk agama islam, baik yang terdahulu maupun yang ada sekarang, Na’udzubillah. Oleh karena itu wajib bagi yang mau pergi ke negeri kafir menjaga dan memperhatikan syarat-syarat yang telah saya sebutkan diatas agar tidak jatuh ke dalam kehancuran.

Bagi yang ingin menetap di negeri tersebut, Ada dua syarat utama:
Pertama: Merasa aman dengan agamanya. Maksudnya, hendaknya ia memiliki ilmu, iman dan kemauan kuat yang membuatnya tetap teguh dengan agamanya, takut menyimpang dan waspada dari kesesatan. Ia harus menyimpan rasa permusuhan dan kebencian terhadap orang-orang kafir serta tidak sekali-kali setia dan mencintai mereka, karena setia dan mengikat cinta dengan mereka bertentangan dengan iman.

Firman Allah subhanahu wata’ala (yang artinya):
Engkau (Muhammad) tidak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, Sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. meraka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya mereka itulah golongan Allah. ketahuilah, bahwa Sesungguhnya golongan Allah itu adalah golongan yang beruntung. (al mujaadilah :22)

Dalam sebuah Hadist Shahih Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya barang siapa Yang Mencintai suatu kaum, maka ia tergolong dari mereka, seseorang selalu bersama dengan orang yang ia cintai”

Mencintai musuh Allah subhanahu wata’ala adalah bahaya yang paling besar pada diri seorang muslim, karena mencintai mereka berarti mengharuskan seorang muslim untuk setuju mengikuti mereka atau paling tidak mendiamkan kemungkaran yang ada pada mereka. Oleh karena itu Nabi Bersabda: “Barang siapa yang mencintai suatu kaum, maka tergolong dari mereka.”

Kedua: Ia mampu menegakkan dan menghidupkan syi’ar agama di tempat tinggalnya tanpa ada penghalang. Ia bebas melakukan shalat fardhu, shalat jum’at dan shalat berjama’ah jika ada yang diajak shalat berjama’ah dan jum’at, menunaikan zakat, puasa, haji dan syi’ar Islam lainya. Jika ia tidak mampu melakukan hal di atas, maka tidak diperbolehkan tinggal di negeri kafir.  Karena dalam keadaan seperti ini wajib baginya hijrah dari tempat seperti itu.

Mengenai hukumnya seorang yang mukim di negeri kafir dan tidak bisa melaksanakan shalat jumat dalam waktu satu tahun karena kesulitan mencari masjid atau tempat shalat jumat.

Anda harus bertakwa kepada Allah dan berusaha mencari masjid atau tempat shalat jumat meskipun harus menempuh jarak jauh. Namun kalau telah berusaha maksimal dan kondisi tidak memungkinkan untuk shalat jumat maka anda harus tetap melakukan shalat dhuhur. Namun apakah anda boleh mengqashar shalat dan pada akhirnya shalat jumat gugur dari anda maka terjadi kontroversi di kalangan para ulama:
a.Jumhur ulama (Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad) berpendapat bahwa jika berniat ingin mukim lebih dari empat hari tidak boleh meng-qashar shalat.
b.Imam Abu Hanifah, Imam ats-Tsauri dan Imam al-Mizani berpendapat bahwa bila seorang musafir berniat mukim selama lima belas hari maka tidak boleh meng-qashar.
c.Imam Hasan al-Bashry, Qatadah, Ishaq dan Ibnu Taimiyah berpendapat bahwa seorang musafir boleh meng-qashar shalat selamanya selagi tidak berniat untuk mukim.
d.Imam Ibnu Hazm berpendapat bahwa seorang musafir boleh meng-qashar shalat selama dua puluh hari baik dia berniat mukim atau tidak.

Maka menurut pendapat yang kuat adalah madzhab ulama yang menegaskan bahwa tidak ada batasan secara khusus berapa lama seorang musafir boleh meng-qashar shalat bahkan selagi dia belum berniat untuk mukim dan masih membutuhkan untuk meng-qashar shalat maka demikian itu tetap dibolehkan. Karena dalam al-Kitab dan as-Sunnah kondisi manusia hanya ada dua; mukim dan musafir. Sementara orang tinggal di negeri orang lain berada dalam dua kondisi; pertama: Dia telah tinggal mapan dan berdomisili layaknya penduduk asli maka dia seorang mukim dan tidak boleh meng-qashar shalat, bahkan harus melakukan shalat normal sebagaimana penduduk asli. Demikian itu tidak bisa dibatasi tiga atau empat hari atau lebih banyak dari itu. Adapun qasharnya nabi selama tiga hari di Makkah tidak bisa menjadi patokan karena demikian itu sunnah perbuatan dan beliau berniat mukim. Adapun orang yang tinggal di suatu negeri rantau yang tidak pernah merasa mapan dan selalu berpindah-pindah maka dia seorang musafir dan boleh meng-qashar shalatnya meskipun lebih dari dua puluh hari.

Bahkan terkadang ada orang yang bepergian hingga empat bulan namun setengah bulan di Arab Saudi, satu bulan di Mesir, setelah bulan di Qatar dan satu bulan di Yaman maka kondisi orang ini tetap dikatakan musafir dan boleh meng-qashar shalatnya.
Demikian itu diperkuat oleh atsar-astar sebagai berikut:
1.Dari Ibnu Umar bahwa beliau pernah Mukim di Azerbaizan enam bulan karena dikepung salju maka beliau shalat dua rekaat (qashar).(1)
2.Dari Abu Minhal al-‘Anzi berkata: Aku Berkata kepada Ibnu Abbas: Sesungguhnya aku tinggal di Madinah selama satu haul tidak kuat berjalan maka beliau berkata: Shalatlah dua rakaat (Qashar).(2)
3.Dari Abu Wail berkata: Kami pernah bersama Imam Masruq di daerah Silsilah selama dua tahun dan dia menjadi gubenur daerah itu maka beliau shalat bersama kami dua rakaat (qashar) hingga beliau kembali ke daerahnya.

Jika seorang musafir berada dalam negeri rantau dalam batas waktu sebagaimana yang dialami shahabat atau tabi’in tersebut selagi kondisi masih tidak mapan serta masih belum berniat mukim maka tidak wajib wajib melakukan shalat jumat dan hanya wajib shalat dhuhur dan boleh meng-qasharnya.

Oleh karena itu, kasus yang dihadapi hidup di negeri kafir hendaknya bertakwa kepada Allah ssubhanahu wata’ala dan berusaha untuk mencari masjid atau tempat shalat jumat namun kalau juga tidak dapat maka anda harus shalat dhuhur baik dengan cara normal yaitu empat rakaat atau dengan cara qashar yaitu dua rakaat.

Footnote:

[1] . Shahih sanadnya dikeluarkan Imam al-Baihaqi dalam Sunan al-Kubra (3/ 152) dan dihasankan Syaikh al-Bani dalam Irwaul Ghalil (577).

[2] . Shahih dikeluarkan Ibnu Abu Syaibah dalam Mushannafnya (2/ 207).

[3] . Sanadnya Shahih dikeluarkan Imam Ibnu Abu Syaibah dalam Mushannafnya (2/ 208) dan Imam Abdurrrazaq dalam Mushannafnya (4357).

Audi Yudhasmara

THE TRUTH ISLAMIC RELIGION : Islam is Peace and Love, Yudhasmara Publisher

Jl Taman Bendungan Asahan 5 Jakarta Pusat Phone : (021) 70081995 – 5703646

email : judarwanto@gmail.com 

https://thetruthislamicreligion.wordpress.com/

 

 

 

 

Copyright © 2010, The Truth Islamic Religion  Network  Information Education Network. All rights reserved


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: